Oleh: sang nanang | Januari 23, 2009

HARI KELAHIRAN

Buat Si Ponang Radya Hermawan Putra dan “Arkana Anggoroputro”

PonangBlangkon1

Hari Senin Pon bertepatan dengan 12 Muharram 1429 H menurut kalender komariah atau 21 Januari 2008 menurut tarikh masehi, merupakan hari penting bagi Si Ponang. Dikatakan penting karena pada hari itulah Si Ponang mulai mbabar jagad anyar, hijrah dari alam rahim ngejawantah ke alam semesta raya. Hari tersebut merupakan hari kelahiran Si Ponang.Bertepatan dengan wayah lingsir wengi, setahun berlalu Si Ponang menghirup hawa segar lembah Tidar untuk pertama kalinya. Hari terus berganti, minggu demi minggu berlalu, bulan demi bulan berjalan, tak terasa genap satu tahun Si Ponang hadir di tengah-tengah kami mengisi keriangan hati. Dengan bobot 2,3 kg dan panjang badan 43 cm, saat ini Si Ponang telah tumbuh menjadi bocah mungil dengan segala potensi luar biasa yang bagai nggege mongso.

Semua berjalan alamiah tanpa rekayasa sekedar mbanyu mili mengikuti kerso Sang Maha Kuasa. Si Ponang meski belum bisa berjalan sendiri dan hanya sekedar laku tetah, namun tak menghalanginya untuk bermain ke sana ke mari mengikuti naluri keingintahuannya. Hampir di waktu sepanjang seharian Si Ponang memiliki stamina yang rosa-rosa untuk selalu tetahan, seakan tidak akan pernah menyerah sebelum bisa tegak berjalan sendiri. Jika sudah demikian maka yang kerepotan adalah para mbah, sang bopo maupun para biyung emban yang menjadi kerepotan menuruti keinginan Si Ponang. Si Ponang yang tiada mengenal lelah membuat kami semua kelelahan, anak polah bopo sayah!

Hari kelahiran bagi kami tidaklah terlalu penting untuk diperingati apalagi sekedar dirayakan sebatas pemaknaan ritual semata. Hari bersejarah tersebut menurut kami lebih baik diingat sebagai momentum untuk berefleksi diri di hadapan kaca benggala kehidupan. Bagi sang orang tua paling tidak bisa bertanya kembali, apakah selama ini kewajiban sebagai orang tua telah ditunaikan dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab. Bagi Si Ponang bisa dipergunakan sebagai saat untuk mengukur seberapa banyak kemajuan pembelajaran menjadi manusia telah berjalan.

Perayaan dengan segala pesta pora nan hura-hura jelas suatu ritual yang tidak perlu dilakukan. Bagi kami manusia dusun sederhana cukuplah dengan menggelar among-among sego megono dengan mengundang anak-anak para tetangga untuk berkembul bujono bersama sudah merupakan hal yang sangat istimewa. Hal terpenting adalah pengikraran rasa syukur atas berkah umur yang telah diberikan dan tentunya pemanjatan doa agar senantiasa dinaungi ridzo-Nya untuk suatu cita-cita menjadi manusia sejati di kelak kemudian hari.

Hakekat menungso menurut para sesepuh adalah mersudi manunggaling karso. Manusia mempunyai tugas berikhtiar untuk menyatukan rasa, cipta, dan karsanya kepada kehendak Sang Pencipta. Menungso adalah titah sewantah jalmo limrah.

Adalah kelahiran, jodoh, rejeki, dan maut sepenuhnya menjadi rahasia Tuhan.

Dikisahkan di masa menjelang tutup warso 2008 kemarin seorang sahabat bertutur mengenai kondisi istrinya yang tengah mengandung dengan umur kandungan mendekati delapan bulan. Omong punya omong, ketika saya tanyakan mengenai kapan perkiraan si jabang bayi bakalan lahir, dijawablah oleh sobat saya tersebut bahwa tanggal perkiraan kelahiran kalau tidak keliru 26 Januari 2009.

Benak sayapun kemudian teringat dengan isu global mengenai pemanasan global dan perubahan iklim yang telah diakhiri dengan KTT Perubahan Iklim di Bali, karena terbukti isu sentral tersebut tidak pernah lagi menjadi headline di mass media kita. Dari kenyataan yang terjadi dewasa ini, kebanyakan bayi dilahirkan dalam usia kandungan kurang daripada sembilan bulan dan sepuluh hari. Teori sakral mengenai umur kandungan tersebut nampaknya perlu dikoreksi karena telah banyak terjadi penyimpangan. Bahkan masihkah telur ayam dikerami induknya selama dua puluh satu hari? Ada atau tidak ada hubungannya antara usia kandungan dengan pemasanan global saya jelas tidak tahu.

Pada saat saya menanyakan kepada sobat saya mengenai calon nama bagi si jabang bayi, sobat tersebut menjawab dengan kata arkana. Arkana diambil dari kata arka, yang berarti matahari. Jadi arkana bisa dimaknai dengan seorang anak yang diharapkan akan dapat meberikan pancaran kebaikan dan kebahagiaan ke lingkungan sekitar sebagaimana matahari yang bersinar memberikan daya hidup bagi alam semesta.

PonangPilot PonangSiapJalan PonangNggrobak

Sekedar rasan-rasan dengan mbok wedhok, saya berikan analisa bahwasanya sang jabang bayi tersebut sebagaimana mengikuti teori perubahan iklim dan pemanasan global, pastilah akan lahir lebih cepat dari tanggal yang diperkirakan oleh dokter. Dan ketika mboke Si Ponang mendesak dengan pertanyaan, “Terus kalau maju menjadi tanggal berapa?”. Saya dengan spontan menjawab kalau mau hari baik peruntungannya seperti Si Ponang anak kami, ya majunya menjadi tanggal 21 Januari 2009. Berarti tepat satu tahun setelah Si Ponang.

Dan subhanallah…..tepat di hari Rabu 21 Januari 2009 tepat pukul 11.12 saya mendapatkan sms dari sobat saya, “Alhamdulillah tlh lahir putra pertama kami dRSUP.Fatmawati 21 Jan 08, 09.24 wib, dgn berat 3,4 kg, tinggi 50 cm. Terima kasih atas doanya.putri&anggoro”. Meski terdapat kesalahan pengetikan tahun, namun yang jelas maksudnya adalah 09.

Bersamaan saat saya membaca sms tersebut, sayapun menerima sms dari mboke Si Ponang yang tertulis “mas, smpyn mnang taruhan..ank anggoro lhr mau jam 9”.

Apakah ini sengaja hanya suatu kebetulan semata? Namun yang jelas bagi saya, semua ini terjadi semata-mata atas kehendak Tuhan.

Sayapun kemudian segera mengirimkan sms balikan untuk menyampaikan selamat dan sekedar doa agar kelak sang jabang bayi bisa menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi bangsa dan negara.

Teringat rancangan nama dengan kata arkana, saya susulkan sebuah sms “Srengenge:arka, aruna, bagaskara, bagaspati, baskara, diwangkara, pratangga, raditya, radite, rawi, surya, we, aditya, andakara, banu, datopati, dewangkara, giwangkara, kalandara” Bagaimana menurut sampeyan?

Dongane Bapak kanggo Si Ponang, “ Mugo biso dadi kawulone Gusti kang mituhu, manut Bapak Ibu lan ora pareng nakal nggih!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: